Mengapa Hukuman Tidak Efektif

gambar tersebut menyebutkan Mengapa Hukuman Tidak Efektif gambar tersebut menyebutkan Mengapa Hukuman Tidak Efektif

Mengapa Hukuman Tidak Efektif

Ketika orang tua menginginkan anak agar mengikuti perintah mereka, dan keahlian komunikasi mereka tidak berhasil, biasanya mereka akan “bersuara keras” untuk menyelesaikan masalah. Hasilnya? Satu pihak “menang,” mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara pihak yang lain “kalah.”

Cara mendidik anak seperti ini mungkin cocok bagi Anda jika Anda adalah orang tua yang otoriter, yang percaya bahwa demi tumbuh kembang yang baik, anak-anak harus dihukum jika berbuat salah dan diberi hadiah jika berkelakuan baik.

Konsep seperti ini cukup dikenal dan diterima oleh sebagian besar orang tua, tapi mereka harus membayar mahal untuk sebuah kepatuhan.

Awalnya, orang tua mungkin akan memberikan alasan mengapa sesuatu itu boleh atau tidak boleh dilakukan atau perbuatan mana yang salah dan mana yang benar, tapi tidak jarang hal itu akan berlanjut menjadi sesuatu yang lebih intens, seperti nada suara meninggi, kontak fisik, hingga menyeret tubuh anak. Bahkan, hukuman “ringan” seperti time-out atau omelan sebenarnya juga tidak efektif.

Para ahli sepakat bahwa hukuman tidak mengajarkan apa-apa pada anak, melainkan:

  • Menimbulkan Kebencian

Hukuman hanya terlihat efektif untuk jangka pendek. Sedangkan, efek jangka panjangnya adalah anak-anak akan membenci Anda sehingga mereka tidak akan mendengarkan Anda. Dengan kata lain, hukuman akan membuat hubungan Anda dengan anak menjadi jauh.

  • Mengakibatkan Gangguan Psikologis.

Berbagai penelitian menemukan bahwa anak-anak yang sering menerima hukuman fisik (mis: dipukul) dari orang tua mereka cenderung memiliki perilaku kasar dan agresif di lingkungan sosialnya. Sedangkan, kekerasan verbal (mis: berteriak) juga berdampak pada perilaku anak di sekolah (tidak taat, melawan guru, gaduh, dll), suka berbohong, mencuri dan berkelahi.

  • Mendorong Perilaku Egois.

Hukuman mengajarkan anak untuk fokus terhadap konsekuensi yang mereka terima, bukan bagaimana efek perbuatan mereka terhadap orang lain. Hal ini membuat mereka tidak bisa memiliki keterampilan kecerdasan emosional, seperti empati dan kesadaran sosial.

  • Mendorong Sifat Tidak Jujur.

Ketika anak-anak sudah terbiasa menerima hukuman, mereka akan belajar untuk berbohong agar bisa menghindari hukuman (mis: berbohong kepada orang tua saat menerima detensi di sekolah). Faktanya, anak-anak yang takut menerima hukuman akan menjadi anak-anak yang pintar berbohong.

  • Mencegah Mereka Mengembangkan Kesadaran Nurani.

Salah satu masalah terbesar yang diakibatkan hukuman adalah hukuman tidak mengajarkan anak-anak untuk melakukan hal yang benar. Seorang anak mungkin akan meniru perilaku yang “dominan” dan menggunakannya kepada orang yang lebih lemah dari mereka.Akibatnya, mereka tidak belajar untuk menghargai keinginan diri sendiri, keinginan orang lain, atau bagaimana mempertemukan keduanya dalam suasana yang jujur dan adil.

Bagaimana cara membesarkan anak yang baik—tanpa menghukum mereka

Bagaimana cara memberi batasan kepada anak tanpa menghukum mereka? Kuncinya adalah berkomunikasi dengan anak Anda dan bantu mereka untuk memahami mengapa perilaku mereka tidak bisa diterima. Perhatikan pemilihan kata yang Anda gunakan dan bagaimana Anda menggunakannya.

Contoh: Anak Anda membiarkan mainannya berantakan di ruang keluarga setelah ia berjanji kepada Anda untuk merapikannya jika sudah selesai bermain. Berikut adalah kalimat yang tidak boleh Anda katakan:

  • “Rapikan semuanya sekarang juga! Ibu/Ayah tidak suka kalau mainan berantakan seperti ini lagi!” Ketika anak-anak diberi perintah, mereka cenderung tidak akan melakukannya.
  • “Jika kamu tidak membereskan mainan sekarang, kamu tidak boleh nonton TV.”Sama seperti perintah, ancaman juga mengakibatkan penolakan. Hal itu akan membuat anak-anak merasa dibohongi/dimanipulasi. Mungkin, untuk jangka pendek akan efektif, tapi ke depannya akan menimbulkan kebencian dan perilaku tidak menurut.
  • “Masa harus dikasih tahu terus.”Menyalahkan anak sama dengan menjatuhkan anak, dan hal itu akan membuat anak merasa bersalah, tidak dicintai dan ditolak. Bahkan, hal itu mencegah timbulnya hubungan yang positif anatara orang tua dan anak.

Sebaiknya, ajak anak Anda untuk berubah dari dalam. Perlahan-pelan, tanpa menunjukkan emosi, jelaskan bagaimana tingkah laku mereka tidak bisa diterima. Selalu mulai dengan menyebut diri Anda (mis: “Ibu/Ayah kecewa kalau melihat mainan berantakan seperti ini.”).

Selanjutnya, bantu mereka untuk memahami akibat perbuatan mereka terhadap orang lain: “Kalau mainan berserakan di lantai seperti ini, kita tidak bisa tiduran begini.” — lalu berbaring di lantai dengan kaki dan tangan Anda terbentang. Jika Anda membuat suasana menjadi ringan dan menyelipkan lelucon, anak-anak tidak akan membenci Anda. Begitu pula mereka tidak akan merasa marah dan bersalah.

Jadi contoh yang baik untuk anak

Sebuah konflik bisa diatasi dengan damai saat kita berbicara dengan lemah lembut dan bisa menunjukkan bahwa maksud kita adalah agar semua keinginan kedua belah pihak terpenuhi.

Ingatlah, ini adalah bentuk hukuman alternatif yang lebih bijak — dan tujuannya adalah untuk melatih, bukan mengontrol.